3 Mitos Populer Seputar Aplikasi Pinjaman Uang yang Perlu Kamu Tahu


https://lh3.googleusercontent.com/qNDxMksfS5nDbfQi8mDWnei46jUqgU02MHsilUpPKx_YYIQkmt7rKwZV5-mkdYVQB36QF_GlVrubIqYIk-laAcfuMfokiXFHmrzIEIzm40QrMXmSwK5j3z1ZpYweWUE4sKXuHsPl

Banyaknya pertanyaan seputar cara kerja fintech atau aplikasi pinjaman uang saat ini bisa dibilang tidak sebanding dengan sumber referensi yang bisa dijadikan rujukan jawaban yang valid. Akibatnya, nggak jarang dijumpai informasi yang simpang siur terkait fintech atau aplikasi pinjaman online. Belum lagi ditambah banyaknya berita pengaduan terkait ulah fintech yang negatif, terutama tentang cara penagihan hingga penyebaran data. 

Padahal, tidak semua fintech seperti demikian apabila penggunanya kritis dan cerdas memilih. Pada dasarnya aplikasi fintech yang menawarkan jasa pinjaman uang online bertujuan mempermudah masyarakat dalam mendapat akses kredit atau pinjaman. Yang mana apabila mengajukan ke bank, syaratnya lebih rumit dan kemungkinan disetujuinya lebih kecil. 

Jangan keburu khawatir atau takut saat kamu menerima informasi yang arahnya negatif terkait aplikasi fintech. Bisa jadi, hal tersebut hanya bagian dari salah satu mitos yang akan diulas berikut ini. 

Mitos: semua aplikasi pinjaman uang memiliki suku bunga sangat tinggi

Menurut Bank Indonesia, ada empat kategori fintech di Indonesia saat ini, yaitu fintech P2P Lending dan Crowdfunding, fintech market aggregator, fintech manajemen risiko dan investasi, dan fintech e-wallet. Namun, di Indonesia sendiri, fintech jenis P2P Lending lebih banyak jumlahnya dibanding tiga kategori fintech lainnya. 

Suku bunga yang diterapkan setiap fintech besarannya bervariasi. Ya, sebagian fintech memang menerapkan suku bunga yang cukup tinggi, mulai 0,8% per hari, karena satu alasan yang sama: jenis pinjaman yang ditawarkan termasuk pinjaman cepat tanpa agunan yang mana risiko terjadi kredit macetnya juga tinggi. Jadi, bunga yang tinggi ini tidak serta merta asal dibebankan kepada nasabah tanpa perhitungan atau dengan tujuan spesifik untuk menyusahkan nasabah. Ini tentunya kembali lagi pada keputusan kamu sebagai calon pengguna. Jika kamu bersedia atau menyanggupi suku bunga pinjamannya, tentu tidak jadi persoalan. Namun yang pasti, institusi yang berwenang dalam hal ini OJK sedang dalam perumusan wacana untuk mengatur batas suku bunga yang dapat diterapkan fintech. 

Sebagian fintech lainnya, juga ada yang menerapkan besaran suku bunga berbeda. Kredivo misalnya, yang mematok suku bunga flat per bulan 2,95% baik untuk pinjaman uang maupun cicilan barang online. Untuk nominal pinjaman di Kredivo juga bervariasi sesuai kebutuhan, yaitu mulai Rp500.000 untuk pinjaman kecil atau mini dan mulai dari Rp 1 juta ke atas untuk pinjaman besar atau jumbo. Tenor untuk pinjaman tersedia mulai dari 30 hari, 3 bulan, dan maksimal hingga 6 bulan.

Mitos: cara penagihan aplikasi fintech pinjaman uang tidak manusiawi

Kalau yang kamu gunakan adalah aplikasi fintech ilegal, kemungkinan hal ini terjadi tentu besar karena fintech tersebut tidak berada dalam pengawasan insitusi yang berwenang di Indonesia. Sementara, jika kamu menggunakan fintech yang terdaftar di OJK seperti Kredivo, sangat kecil kemungkinan kasus ini terjadi karena fintech akan beroperasi dan bekerja sesuai prosedur yang berlaku. 

Kalau pun hal tersebut terjadi pada fintech yang terdaftar di OJK, dalam hal ini kamu sebagai nasabah memiliki payung hukum yang jelas dan dapat melaporkan langsung ke OJK apabila cara penagihan fintech sudah melanggar hukum. Sebab, BI & OJK sendiri sudah menerbitkan peraturan tentang tata cara atau etika penagihan secara detail yang wajib dipatuhi fintech atau semua lembaga pinjaman sejenisnya. 

Mitos: aplikasi fintech pinjaman uang mencuri, menyadap, dan menyebarkan data tanpa izin

Tahukah kamu, ketika kamu mendownload sebuah aplikasi melalui Google Play Store atau App Store, akan ada berbagai izin akses yang diminta aplikasi tersebut ke dalam HP atau smartphone-mu. Tujuan utamanya tentu supaya aplikasi tersebut bisa bekerja dengan sebagaimana mestinya. Instagram misalnya, yang akan meminta akses masuk ke galeri foto. Ini termasuk permintaan akses yang wajar sebab Instagram adalah aplikasi jejaring sosial untuk berbagi foto atau video. Ketika kamu menekan tombol “ya” atau mengizinkan aksesnya, maka kamu dianggap sudah menyetujui syarat dan ketentuan dari aplikasi tersebut secara digital. 

Hal ini juga berlaku bagi aplikasi fintech pinjaman online. Beberapa akses yang umum diminta aplikasi fintech ke HP penggunanya antara lain adalah kontak, GPS, hingga kamera. Apa tujuannya? Secara tidak langsung sebagai validasi bahwa kamu adalah persona yang nyata yang memang mengajukan pinjaman, bukan bot ataupun oknum yang sengaja pinjam untuk tujuan fraud. Tujuan lainnya juga sebagai “jaminan” apabila kamu telat membayar tagihan, perusahaan fintech tersebut tidak akan merugi dan tahu ke mana harus menghubungi kamu. 

Ketika kamu mengeklik “Ya” atau “Izinkan” pada setiap permintaan akses dari aplikasi pinjaman, artinya kamu sudah dengan sukarela mengizinkan fintech terkait untuk mengakses data-data yang diminta. Jadi, tuduhan mencuri, menyadap, dan menyebarkan data bisa dibilang tidak sepenuhnya valid. Maka dari itu, di sinilah pentingnya untuk membaca informasi kebijakan privasi dan keamanan data dari sebuah fintech sebelum digunakan. Kalau tidak mau data-datamu disalahgunakan atau dipakai sesuai syarat dan ketentuan fintech, maka kamu bisa menolak semua permintaan akses tersebut. Namun, sebagai konsekuensinya, tentu saja, kemungkinan besar pengajuan pinjaman kamu akan ditolak. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *